Sudah dapat ditebak saat pertama kali membaca judulnya. Ateis, tidak percaya dengan adanya Tuhan. Tidak bisa dipungkiri apakah demikian bentuk perilaku komunitas beragama atau pun –isme, entahlah. Karena akan sangat tidak objektif tatkala kita langsung menilai dan men-judge sebuah objek hanya dengan melihatnya dari satu sisi saja, sangat tidak fair kita yang ber-Tuhan tidak mau melihat dari sisi lain dan mencoba untuk mempelajarinya.
Saat kita masuk ke hutan-hutan belantara dan bertemu dengan orang suku-suku pedalaman yang tidak se (agama/-isme) dengan kita, serta segala keterpencilan yang mereka miliki. Hanya kepercayaan terhadap komunitas dan nurani saja yang mereka anut. Akankah kita menilai mereka golongan kafir atau langsung mengatakan mereka adalah domba-domba tersesat, hanya karena mereka tak sepaham dengan kita. Lalu bagaimana tanggapan mereka terhadap kita mungkin saja mereka tak bersikap demikian kepada kita. Sungguh tak ada sikap teladan yang bisa kita ambil dari sikap orang yang meng-kafir-kan atau pun men-domba sesat-kan orang lain. View full article »